Laman

Minggu, 13 Desember 2015

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia #4

Nilai-nilai budaya dan peradaban modern

            Di depan telah dikemukakan bahwa disain NKRI adalah negara modern, maka semua tata nilai modern yang bisa membawa kesejahteraan sosial seluruh rakyat bisa diterima.  Namun demikian, sebagai negara dan bangsa berdaulat sudah barangtentu melakukan filter (pemilihan dan pemilahan) nilai-nilai mordernisasi tersebut.  Pemfilteran terjadi bukan merupakan penerapan kebijaksanaan tata kelola pemerintahan saja, namun secara ‘alamiah adi kodrati’ akan dilakukan secara spiritual seluruh rakyat. Landsan pemikirannya, bahwa di jiwanya rakyat Indonesia telah tersemaikan ‘wiji spiritual Indonesia’ yang akan operasional secara alamiah untuk menangkal berkembangnya ide-ide yang tidak cocok dengan jatidiri Indonesia, Pancasila.
            Alur pemikiran ini memang terkesan ‘nyleneh’ dan ‘jauh panggang dari api’.  Namun bukti-bukti empiris terbukti di lapangan.  Sebagai contoh, pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini boleh dikatakan sebagai loncatan kemajuan yang mencengangkan.  Banyak pakar memperkirakan kita tidak mampu melaksanakan asas-asas demokrasi tersebut, ternyata kemudian Indonesia mampu melaksanakan sistim pemilu/pilkada langsung oleh rakyat dengan mulus.  Hal ini membuktikan bahwa kita mampu menyelenggarakan tata kelola pemerintahan negara yang modern, demokratis.
            Keberhasilan berdemokrasi tersebut mengindikasikan bahwa secara spiritual jiwa rakyat Indonesia benar-benar telah memiliki kesadaran bernegara secara modern.  Maka sebenarnya kita sangat optimis tentang masa depan Indonesia.  Kondisi yang sekarang dianggap terpuruk dan carut marut adalah kondisi sementara yang pasti berubah menuju tatanan yang paripurna sebagaimana dicitakan para pendiri bangsa kita. 
            Nilai-nilai budaya dan peradaban modern sebagai dampak globalisasi memang akan berpengaruh terhadap perubahan-perubahan sistim sosial kemasyarakatan.  Namun dengan mengingat bahwa disain Indonesia sebagai negara modern yang berkesejahteraan sosial sudah secara spiritual menghuni jiwanya rakyat akan menumbuhkan optimisme untuk mampu mengelola berbagai pengaruh tersebut.  Optimisme ini bertolak dari kenyataan bahwa nilai-nilai Pancasila, meski tidak banyak dibicarakan lagi, pada kenyataannya telah melekat dan menjadi naluri alamiah rakyat Indonesia secara spirituil.  Alasannya, bahwa Pancasila bukan hasil rekayasa, tetapi digali dari bumi pertiwi Indonesia sendiri.  Dalam hal ini pemakalah mewacanakan bahwa Pancasila memang ada di ‘gugus geo spiritual Indonesia’ dan manunggal dengan ‘wiji spiritual Indonesia’ yang melekat di jiwanya rakyat Indonesia. 
            Panunggalan ‘gugus geo spiritual Indonesia’ dengan ‘wiji spiritual Indonesia’ merupakan hubungan kosmis-magis adikodrati yang kendalinya ada kuasa Tuhan Yang Maha Esa.  Panunggalan tersebut yang digali Bung Karno saripati nilai-nilainya, kemudian dirumuskan sebagai Pancasila dan dijadikan dasar dan ideologi NKRI.  Maka dengan demikian Pancasila merupakan ideologi yang paling tepat bagi bangsa Indonesia.  Disamping sebagai ‘way of life’ dan ‘struggle for life’, juga merupakan benteng pertahanan untuk tetap menjaga eksisnya NKRI. 
            Pada saat ini banyak yang beranggapan bahwa Pancasila sudah ‘dilupakan’ dan perlu diganti dengan ideologi lain.  Namun anggapan yang demikian sekedar tinjauan ranah lahiriah semata.  Secara spiritual nilai-nilai Pancasila melekat erat di ruang batin seluruh rakyat Indonesia karena merupakan ideologi yang lahir dari suatu proses adikodrati.  Kalau toh kenyataannya banyak upaya meninggalkannya, namun kita boleh yakin bahwa secara spiritual tak mungkin hilang dari sanubari terdalamnya seluruh rakyat Indonesia.  Segencar apapun upaya ‘melindas’ dan ‘mengkooptasi’ dengan ideologi lain, maka rakyat Indonesia akan tetap teguh mempertahankan Pancasila di ruang terdalam batinnya.  Semua ideologi lain yang dicobakan untuk mengganti bisanya hanya di lapis luar.  Demikian pula nilai-nilai liberalisme produk modernisasi akan terjinakkan oleh nilai-nilai Pancasila yang lebih kuat mengisi jiwanya rakyat Indonesia.

Penutup
            Wacana tersaji pada makalah ini merupakan tinjauan berdasarkan perenungan spiritual.  Maka dimungkinkan kurang bisa diterima oleh banyak pihak yang lebih mengutamakan aras empiris.  Namun demikian, pemakalah ingin menyampaiakan suatu bahan kajian bersama atas konsep adanya ‘gugus geo spiritual Indonesia’ sebagai plasma (mancapat, jw) dan ‘wiji spiritual Indonesia’ pada ‘inner’ insan Indonesia sebagai inti (pancer, jw.).  Suatu hubungan inti-plasma atau ‘pancer-mancapat’ yang sejalan dengan kenyataan panunggalan seluruh struktur semesta yang kekal abadi meski secara dinamis juga mengalami perubahan. 
            Kesimpulannya, bahwa ada hubungan spiritual kosmis magis antara kawula Indonesia dengan NKRI yang adikodrati. Bahwa kemudian ‘hubungan kosmis magis’ tersebut dirumuskan sebagai ideologi Pancasila adalah sangat tepat sekali.  Dengan demikian, Pancasila merupakan satu-satunya ideologi yang secara spirituil mampu menjaga eksistensi Indonesia.  Swuhn.


Semarang, Agustus 2008.

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia #3

Nilai-nilai budaya dan peradaban agama yang dipeluk

            Sudah sejak jaman kuno, bumi Nusantara merupakan wilayah dunia yang menjadi sasaran penyebaran agama-agama besar dunia.  Maka kemudian rakyat Nusantara menjadi pemeluk agama-agama tersebut.  Disamping itu, ada agama-agama lokal yang ternyata tetap eksis meskipun tidak terakui oleh Pemerintahan Negara. 
Setiap agama dan kepercayaan membawa serta budaya dan peradaban dari tempat agama itu berasal.  Di Nusantara, nilai-nilai yang dibawa serta agama-agama berinteraksi saling pengaruh mempengaruhi sedemikian rupa dinamis hingga terjadi sinergi dan sinkretisme nilai-nilai.  Sinkretisme tersebut pada jamannya ternyata mampu mengampu kepentingan kehidupan sosial kemasyarakatan dengan baik.  Hal itu bisa dibuktikan dengan menghadirkan kejayaan Sriwijaya, Syailendra & Sanjaya, Majapahit, sampai kepada eksisnya kesultanan-kesultanan Islam di seluruh wilayah Nusantara. 
            Dinamika pergaulan antar bangsa dan negara di dunia sejak jaman kuno ternyata penuh konflik kepentingan.  Demikian pula sebaran berbagai agama di Nusantara tidak lepas dari kepentingan untuk ‘menguasai’ Nusantara yang subur makmur dan kaya raya sumber daya alamnya.  Kepentingan kerajaan-kerajaan India terhadap penguasaan Nusantara menggunakan penyebaran agama Hindu dan Buda.  Demikian pula sebaran agama Islam dimanfaatkan untuk kooptasi Arab/Persia terhadap Nusantara. Meski perlu dikaji mendalam, kemungkinan sebaran agama Kristiani juga dimanfaatkan oleh penjajah Belanda. Barangkali hanya upaya kooptasi Cina dan Jepang terhadap Nusantara yang tidak menggunakan sebaran agama, tetapi lebih menggunakan kekuatan ekonomi dan militer.
            Berdasar bukti sejarah, maka upaya kooptasi menggunakan sebaran agama di Nusantara pernah berhasil.  Maka kemudian tersebarkan nilai-nilai budaya dan peradaban asal agama-agama tersebut di Nusantara.  Adalah kenyataan sejarah bahwa nilai-nilai budaya dan peradaban agama-agama dari manca tersebut sudah membawa serta ‘nuansa konflik’ sejak dari tanah asalnya.  Nuansa konflik tersebut secara nyata mewujud dalam konflik antara Wangsa Syailendra (Buda) dengan Wangsa Sanjaya (Hindu) di Mataram Kuno.  Juga mengemuka dalam konflik Sriwijaya (Buda) dengan Cola di India yang Hindu. Dalam hal konflik ini, kerajaan Cola perlu membela komunitas Tamil (Hindu) yang mendapatkan perlakuan tidak adil dari penguasa Sriwijaya (Buda).
            Konflik Buda dan Hindu (Syiwa) mampu diredam di jaman Majapahit dengan keluarnya filsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa’ oleh Empu Tantular.  Namun kemudian peredaman ini tidak berjalan ketika Nusantara menerima sebaran Islam. Banyak daerah kekuasaan Majapahit yang sudah mayoritas memeluk agama Islam melepaskan diri dari Majapahit yang diposisikan sebagai ‘kerajaan kafir’.  Ujungnya berupa runtuhnya Majapahit.
            Terlepas dari kenyataan sejarah jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan di Nusantara atas pengaruh sebaran agama, realitas yang ada di tengah masyarakat Indonesia sekarang ini berlaku nilai-nilai budaya dan peradaban dari agama yang dipeluk masing-masing.  Maka ketika kita sepakat mewujudkan nilai-nilai Indonesia sebagai negara dan bangsa modern, berkesejahteraan sosial, bercitra, dan dihormati negara lain, butuh pengelolaan cerdas dari nilai-nilai agama yang kita peluk masing-masing.  Adalah suatu kemustahilan membangun bangsa yang bersatu ketika bangsa tersebut tidak mampu mengelola secara cerdas perbedaan tatanilai warga bangsanya atas dasar agama yang dipeluk. 
            Mempersatukan ‘tatanilai’ atas dasar pemelukan agama yang berbeda memang tidak mudah. Maka banyak negara di dunia melepaskan (memisahkan) urusan agama dengan urusan kenegaraan.  Sekularisme dijadikan pijakan menjalankan pemerintahan negara.  Namun sekularisme tidak cocok untuk Indonesia yang rakyatnya memiliki kesadaran ber-Tuhan (religius) mendalam.  Maka dasar utama untuk mempersatukan nilai-nilai budaya dan peradaban dari perbedaan agama yang dipeluk adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.  Adalah makna ber-Tuhan yang mendalam dan lintas budaya.  Aatau oleh Bung Karno dinyatakan sebagai berketuhanan secara budaya.  Artinya, ekspresi dan implementasi ber-Tuhan yang hakiki yang menumbuhkan sikap saling menghormati antar pemeluk agama.
            Untuk memahami makna saling menghormati antar pemeluk agama ini kiranya bisa diinternalisasikan falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang dicetuskan Mpu Tantular.  Bagaimanapun semua ajaran agama memuat tentang spiritualisme yang inti dasarnya berupa ajaran mengoptimalkan kesadaran ber-Tuhan, kesadaran kosmis (kesemestaan), dan kesadaran keberadaban.  Maka tidak ada dharma (kebenaran) yang berbeda.

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia #2

Nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis

            Kita semua menyadari bahwa Indonesia merupakan bangsa dan negara multikultur yang unsur-unsurnya (ketika diberdirikan) sebagian besar tidak memiliki kedaulatan.  Pada unsur-unsur yang kehilangan kedaulatan akibat dijajah pada kenyataannya memiliki nilai-nilai budaya yang azali dan sudah mbalung sungsum pada warga unsur-unsur tersebut.  Sementara, di lain pihak, unsur-unsur lain yang tertinggal dalam peradaban justru memiliki kedaulatan azali yang tidak pernah dikooptasi oleh penjajah. Maka kondisi multikultur ini, merupakan suatu ‘tantangan besar’ untuk dikelola sedemikian rupa cerdas untuk ‘menyatu’ (manunggal, jw.)  lahiriah, batiniah, dan Tuhaniah (istilah BK) dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
            Panduan pengelolaan secara cerdas dari banyak perbedaan unsur-unsur Indonesia termaktub dengan sangat jelas pada Pembukaan UUD 1945.  Kajian kita mendalam tentang isi kandungan Pembukaan UUD tersebut, menyatakan bahwa disain NKRI yang dikehendaki para Founding Fathers kita ternyata merupakan negara dan bangsa baru yang modern, bercitra, dan dihormati negara-negara lain.  Maka secara spiritual NKRI merupakan negara dan bangsa yang bertatanilai peradaban tinggi, berideologi universal (Pancasila), dan berperanan dalam ‘tata pergaulan dunia’.  Dengan demikian, nilai-nilai Indonesia merupakan suatu idealisme yang bernilai luhur dan paripurna untuk kepentingan bernegara dan berbangsa.  Maknanya, bahwa menjadi Indonesia akan memiliki nilai-nilai lebih luhur dibanding nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis.
Meng-Indonesia berarti membangun kesadaran untuk berintegrasi secara tuntas kepada Indonesia.  Integrasi tuntas bukan dimaksud sebagai menafikan dan meninggalkan tatanilai budaya dan peradaban unsur-unsur.  Juga bukan sebagai ‘genocyde’ terhadap unsur-unsur yang tertinggal dalam peradaban.  Namun merupakan upaya membangun ‘kesetaraan’ antar unsur sebagai prasyarat mutlak berdirinya Indonesia sebagai negara dan bangsa modern yang berkesejahteraan sosial.  Adalah misteri Illahi, bahwa kenyataannya Indonesia bisa diberdirikan meskipun unsur-unsur pembangunnya berasal dari unsur terjajah dan sebagian masih tertinggal dalam peradaban (primitif).
            Kita semua sadar bahwa nilai-nilai budaya dan peradaban azali sukubangsa atau etnis kita sering menjadi kendala dalam proses meg-Indonesia.  Setidaknya, dalam relung batin kita masing-masing sering merasa ‘kehilangan’ identitas suku dan etnis ketika ‘wajib’ berubah menjadi Indonesia.  Kita semua selalu merasa nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis masing-masing sebagai nilai-nilai yang paripurna, terbaik.  Padahal, kenyataan yang harus diingat, bahwa nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis yang kita anggap luhur sudah usang, jumud, dan tak sanggup melawan penjajahan.  Ambil contoh tentang nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang selalu dianggap adiluhung, pada kenyataannya justru Jawa adalah unsur Indonesia yang paling intensif terjajah Belanda dan Jepang.  Maka, maaf pemakalah adalah orang Jawa, berani beranggapan bahwa tatanilai budaya dan peradaban Jawa termasuk usang dan jumud hingga perlu direvitalisasi agar bisa dipersembahkan kepada Indonesia dan kemaslahatan umat manusia.  Wacana revitalisasi nilai-nilai budaya peradaban Jawa dan unsur-unsur Indonesia yang lain mungkin perlu diseminarkan atau diagendakan dalan sarasehan tersendiri.
            Dalam banyak kesempatan bersarasehan ataupun berdiskusi, pemakalah sering menyatakan bahwa Indonesia bisa kita ibaratkan sebagai ‘tabung reaksi’ yang memproses berbagai unsur (sukubangsa dan etnis) untuk melebur menjadi suatu senyawa (kesatuan) baru, bangsa Indonesia.  Proses peleburan untuk menghasilkan Indonesia butuh waktu dan perjuangan dari seluruh rakyat Indonesia. 

Atas dasar pengertian bahwa pada jiwanya rakyat Indonesia telah tersemaikan ‘wiji spiritual Indonesia’, maka sesungguhnya pada jiwa rakyat sudah memiliki kehendak bersama untuk bersatu sebagai bangsa.  Namun kenyataan, banyak elit unsur-unsur yang oleh kepenting individualnya berusaha memanipulasi ‘kehendak suci’ warga unsusr-unsur meng-Indonesia itu untuk ‘mbalela’.  Pemanipulasian tersebut mewujud dalam berbagai kemasan palsu.  Diantaranya, berupa pengingkaran dan ‘penguburan’ ideologi Pancasila untuk diganti ideologi lain.

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia #1

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia
Oleh : Ki Sondong Mandali
Pendahuluan  
Dalam pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno menyebutkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan salah satu gugus ‘geo politik’ di planet bumi.  Disebutkan pula bahwa di atas gugus ‘geo politik’ tersebut  pernah berdisi 2 (dua) kali masa ‘negara bangsa’, yaitu masa Sriwijaya dan Majapahit.  Maka artinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah  ‘negara bangsa’ ke tiga di wilayah gugus ‘geo politik’ sebagaimana dimaksud Bung Karno.
            Gugus ‘geo politik’ kepulauan Nusantara pada dasarnya memiliki ‘ikatan spiritual’ yang menyatukan wilayah geo politik tersebut dalam satu ‘gugus geo spiritual’.  Wilayah ‘geo spiritual’ tidak selalu sama dengan batas wilayah ‘negara bangsa’ yang ada dan pernah ada di wilayah gugus ‘geo spiritual’ tersebut.  Sriwijaya wilayahnya di bagian barat kepulauan Nusantara, sebagian daratan Asia Tenggara, dan Kalimantan Barat.  Namun Kalimantan Timur, Jawa, dan bagian Nusantara Timur tidak masuk wilayah Sriwijaya. Di wilayah Nusantara yang tidak masuk wilayah Sriwijaya itu ada kerajaan-kerajaan berdaulat lain.  Demikian pula ketika eksisnya Majapahit yang wilayahnya mencapai daratan Asia Tenggara dan hampir seluruh kepulauan Nusantara, tetapi ternyata Pasundan yang dekat dengan ibukota Majapahit berdaulat dan tidak masuk wilayahnya.
Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan dengan wilayah mencakup bekas jajahan Hindia Belanda.  Dengan demikian, wilayah NKRI tidak sama dengan wilayah Sriwijaya ataupun Majapahit.  Ikatan spiritual unsur-unsur yang bergabung dengan NKRI juga tidak sama dengan unsur-unsur yang membangun Sriwijaya maupun Majapahit.  Sriwijaya dan Majapahit perluasan wilayahnya dilakukan dengan penaklukan-penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan berdaulat lain, maka ikatan spiritualnya antara penakluk dan yang ditaklukkan.  Sementara NKRI unsur-unsurnya bergabung atas kesadaran rakyatnya, sehingga ikatan spiritualnya berupa kesadaran berbangsa untuk menggapai kesejahteraan bersama.
Dengan memahami alur pemikiran sebagaimana disebutkan, maka sesungguhnya NKRI merupakan realitas baru.  Negara dan bangsa baru yang memiliki ikatan kesatuan secara spiritual yang baru pula dibanding ikatan spiritual yang pernah ada di masa Sriwijaya maupun Majapahit.  Ikatan spiritual NKRI adalah ikatan spiritual yang berdaulat dan tumbuh kembang dari suatu kesadaran bersama seluruh unsur-unsur untuk merdeka dan berdaulat.
Ikatan spiritual NKRI merupakan kesadaran spiritual seluruh unsur-unsur Indonesia yang mendapatkan pembebasan kembali dari penjajahan.  Artinya, bahwa pada seluruh warga bangsa Indonesia tersemaikan benih (wiji, jw.) spiritual ke-‘Indonesia’-annya.  Adalah kehendak jaman, bahwa ‘wiji spiritual’ Indonesia yang tersemai di jiwanya kawula Indonesia itu akan terus tumbuh berkembang dan semakin tangguh berdaulat meskipun banyak halangan dan rintangan.
Proses kesadaran berbangsa membutuhkan perjalanan panjang yang dinamis.  Terlebih mengingat Indonesia merupakan suatu wilayah yang memiliki kekayaan alam yang menjadi incaran untuk dikuasai negara dan bangsa lain.  Demikian pula banyak pengkhianat yang mengganggu proses meng-Indonesia tersebut.
Maka dinamika perjalanan untuk sadar merasa bangga menjadi dan memiliki Indonesia membutuhkan perjuangan ekstra melawan dan mengalahkan kepentingan-kepentingan bangsa dan negara lain untuk menguasai Indonesia serta ‘membersihkan’ para pengkhianat.  Disamping itu, membutuhkan kecerdasan untuk mengelola interaksi nilai-nilai:
1. Nilai-nilai budaya dan peradaban azali sukubangsa dan etnis masing-masing.
2. Nilai-nilai budaya dan peradaban dari agama yang dipeluk masing-masing.
3. Nilai-nilai budaya dan peradaban modern sebagai dampak globalisasi.
            Makalah tersaji ini merupakan upaya pemandu mengenali ‘persinggungan’ antar nilai-nilai tersebut serta dampak pengaruhnya terhadap ideologi kebangsaan Indonesia, Pancasila. 

Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri 1433 H



Monggo bilih wonten ingkang ngersaaken PROPOLIS utawi MELIA BIYANG, kawulo aturi NYEKLIK www.kdpbiz.com/?page_id=217 utawi langsung ngunduh formulir pendaftaranipun ing NGRIKI.

Senin, 24 Mei 2010

Medu Netcher

Oleh: Ki Denggleng Pagelaran
Para sejawat,

Memperhatikan e-mail Kang Sondong yang sudah berani memasang gelar “Ki”-nya lagi, yang salah satu intinya adalah mengemukakan hakekat (pepesthen) ketelanjangan manusia (jalma wuda) dari “mantra sengara” dan “joborolo, mokoholo, hosoropolo dan hojorolo” dari Lajang Jojobojo, saya jadi ingat sesuatu tentang sastra tulis kuno. Yaitu dari Mesir kuno dengan Hieroglyph nya.

Nama asli hiroglif kalau tak salah Medu Netcher (bahasa Mesir kuno) yang arti harfiahnya “Bahasa Dewata” atau Hiero Glyphos atau apa begitu dalam bahasa Yunani. Pernah saya tulis dalam e-mail berbahasa Jawa di kaljw, arek-suroboyo, sknap dan jawa “Mangatology” yang saya ambil dari pengertian Ma’atyang merupakan dewa tertinggi bangsa Mesir yang dipercaya sebagai pencipta dan pemelihara jagad raya. Dalam mitologi Mesir, Ma’at kemudian bermanifestasi menjadi dewa-dewa Mesir seperti Osiris, Iris dan lain-lain yang umumnya disimbulkan “Kahiyangannya” berupa bintang-bintang atau rasi bintang.

Nah Ma’at mencipta dan memelihara jagad raya (sebagai rabb al – ‘alamiin dalam konsep al-Fatihah-nya Ustadz Chodjim), adalah berdasarkan “benar” dan “titah”. Tidak ada penyelewengan perjalanan jagad raya atas kehendak Ma’at. Semua serba benar, itulah mungkin yang menurut konsep Arab diberi nama malaikat. Malaikat tak terhitung, dan semua serba patuh sesuai kodrat dan tugasnya.

Manusia (dalam konsep Mesir) rupanya berimpit benar dengan konsep al-insan dan jalma, yaitu menjadi makhluk gabungan spiritual dan ragawi. Raga bagi bangsa Mesir merupakan wahana penyempurnaan suksma, sehingga para orang terhormat ketika meninggal diusahakan agar raga itu awet, dengan dimumikan. (Beberapa suku bangsa kuno ternyata memakai konsep mumi ini untuk merawat jenasah, meskipun berbeda-beda metode dan penyemayamannya).

Jadi hidup adalah perjalanan dari dan menuju Ma’at. Oleh karena itu orang Mesir kuno menteorikan Ma’at pasti memberikan “petunjuk”, memberikan panduan hidup. Juga orang Mesir berteori bahwa semua yang tergelar (terlihat maupun ghaib) selalu berupa kenyataan. Ciri khas kenyataan adalah dapat dipahami.

Pemahaman selanjutnya Ma’at mengajarkan petunjuk itu berupa simbol dan gambar. Itu tersebar di seluruh gelaran jagad raya. Akhirnya orang Mesir menemukan simbolisasi “sastra” berupa aksara hieroglyphe (ada sekitar 700an simbol).

Simbol-2 itu berupa gambar-gambar stilir makhluk hidup dan segala ciptaan. Seperti kalajengking, air, gunung, matahari, orang, kayu (pohon) dan lain-lain, untuk menjelaskan “ucapan” dan maksud “kata”. Cara mengungkapkan adalah dengan 2 simbol untuk satu kata. Tetapi dari kata yang diekspresikan yang dibaca adalah “konsonan”-nya. Jadi kalau digunakan bahasa Jawa, misalnya kucing, maka yang dibaca cukup “kcng”, digambar dengan simbul kucing. Tetapi perlu dipertegas, karena ada kata lain dengan unsur konsonan yang sama “kcng” misalnya “kacang”. Jadi bila orang Mesir kuno menulis kucing, ditulisnya dengan dua simbul, misalnya jadi gambar kucing dan simbul “berjalan”.

Nah, itu ada kemiripan dengan mantra sengara dan lajang-jojobojo. Yang menggunakan aksara carakan nglegena (telanjang). Sembah Gusti, menjadi “somoboho gosotoho” yang kalau dibaca konsonannya saja menjadi “smbh gsth”. Sama juga misalnya diwujudkan dalam karakter Jepang bisa menjadi samabaha-gasataha… dengan huruf lain bisa juga begitu.

Bedanya, simbolasi aksara-aksara non-hieroglif sudah lebih lanjut menjadi lambang ucapan, bukan lagi simbol materi ucapan. Ini menandakan lebih majunya abstraksi budaya-budaya itu dibandingkan budaya Mesir kuno.

Yang jelas ada benang merah tentang hakekat nglegena, substansi ketelanjangan. Juga termasuk menakjubkan adalah bahwa sebenarnya awal-awalnya konsep bahasa dewata itu berbasis faham “Monotheisme” paling tidak “Monolatry” (berpaham dewa banyak, tetapi ada Maha Dewa yang paling berkuasa – fahamnya masyarakat Babilonia jaman Ibrahim).

Nah, dengan begitu saya tinggal merenungi firman Tuhan dalam QS 49:13: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal… dst”. Dan dari tinjauan ekosistem serta geografi kuno, tempat yang paling memungkinkan untuk perkembang-biakan manusia itu adalah kondisi “tropika”, yang semula di Afrika, tetapi karena kekeringan menimpa benua itu, menyebabkan “bakalan” manusia bermigrasi ke mana-mana. Nusantara yang sejak 30 juta tahun yang lalu tetap melekat di Khatulistiwa dengan alam segar kaya flora-fauna menurut pendapat saya sangat cocok untuk menciptakan keragaman makhluk hidup. Kita sekarang pun sebagai bangsa Indonesia juga paling banyak bersuku-suku dibandingkan bangsa-bangsa lain…. hehehe…. ah, ini sekedar merenung.

Namun hasilnya, saya menjadi sadar bahwa budaya dan peradapan Nusantara, pastilah jauh lebih tua dibandingkan yang dipersangkakan para ahli. Permasalahannya adalah bahwa jejak-jejak budaya bangsa-bangsa itu di Nusantara sebagian besar terendam laut ketika jaman es terakhir berakhir (sekitar 11.600 tahun yang lalu, kalau menurut cerita Plato), yang kebetulan menjadi acuan dasar dari sistem kalender suku Maya…

Lho, kok kemana-mana? Ya, deh… pokoknya Bahasa Dewata itu berintikan ketelanjangan, dan itu ada disegenap suku bangsa di dunia. Dan itu untuk segala makhluk ciptaan Tuhan. Maka tak heran kalau ada pendapat bahasa dewata semacam itu dipahami pula oleh para yang ghaib…. Apa begitu, ya? [KDP, 28/5-2005]

Kutu Busuk Kyai Salam

SUATU ketika, menjelang peringatan Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi, saya menerima e-mail dari Mr. Alliq McGellnow yang sedang belajar di Amerika. Isi e-mail sangat lucu dan menggemaskan, tentang persepsi dan keimanan beliau terhadap peristiwa akbar yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad. Semua serba realistik. Sampai-sampai saya membalas e-mail itu dengan memberikan gelar kepadanya menjadi bernama Dr. HC. Alliq McGellnow, MMTmn (Magister of Megelna Temenan, Magister Menjeng-kelkan Betul!).

Mengapa? Karena saya jadi ingat atas keluarga legendaris mantan tetangga saya di kampung, Keluarga Mat Pithi dengan kedua anaknya Klowor dan Kliwir. Klowor anak Mat Pithi yang besar entah sejak kapan, ternyata menjadi simpatisan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Sehingga setiap tingkah laku beragamanya menjadi serba reaksioner dan fundamentalis. Sedang Kliwir lebih tertarik berguru agama kepada tokoh-tokoh sepuh di kampung. Klowor menjadi radikal, sedang Kliwir moderat dan cenderung liberal.

Dasar sifatnya yang lebih banyak mewarisi gaya cengengesan Mat Pithi, Kliwir sebagai adik sangat sering menggoda Klowor dalam bermain logika dan nalar spiritual. Kadang-kadang tingkah menggoda itu sangat keterlaluan, dan serba iseng. Apalagi ketika Klowor ketahuan aparat keamanan sebagai simpatisan NII. Masih untung keterlibatan Klowor belum parah dan akut. Klowor, bukan pelaku langsung. Klowor hanya tidak sadar bahwa ‘tanda tangannya’ sebagai Lurah NII dimanfaatkan anak buahnya untuk kegiatan ‘spanyol’ (sebagian pakai nyolong) dalam rangka mencari dana perjuangan. Klowor mau tidak mau menjadi goyah keyakinannya. Inilah yang menjadi sasaran empuk bagi Kliwir untuk menggoda.

Maka ketika akan memperingati Isra’ Mi’raj, Kliwir menggoda keimanan kakaknya tentang peristiwa besar itu. Sebagai penganut faham radikal-fundamentalis lagi literal, bagi Klowor beriman ya beriman. Sementara Kliwir mengimani peristiwa akbar itu dalam khasanah rasio dan nalar logika.

Dalam rangka mencari legitimasi alasan bernalarnya, Kliwir mengajak Klowor (yang mulai goyah keyakianan radikal-fundamentalisnya, akibat dicerca sana-sini gara-gara jadi Lurah NII) menghadap ke Ustadz Salam. Sebetulnya di kampung Kliwir dulu Ustadz Salam dipanggil Ki atau Kyai Salam, malah ada yang memanggil dengan Mbah Salam. Hanya gara-gara Klowor juga akhirnya Kyai Salam mendapat sebutan Ustadz….

Gara-garanya Klowor merasa jengkel dan minta bukti bahwa cerita Kliwir benar adanya. Kliwir menceritakan kisah perjalanan seekor Tuma (kutu kepala) yang katanya bisa mencapai jarak sangat spektakuler. Bayangkan seekor tuma yang nggremet di atas meja kena sorot lampu saja ‘teler‘ kok kata Kliwir mampu menempuh jarak dari Kampung Podorukun, menuju Gedung Grahadi di Surabaya kemudian mencapai Ruang Sidang MPR/DPR di Senayan, mampir ke Gedung Nusantara I, tempat berkantornya Ketua MPR dan DPR. Kontan saja Klowor mendelik dan menghardik: “Kliwir… jangan macem-macem kau! Mana mungkin Tuma itu menempuh jarak sejauh itu. Kecuali kekuasan Tuhan….” (bolak-balik, dalam pikiran Klowor masih saja Tuhan, Tuhan dan Tuhan. Mungkin karena saking menuruti anjuran dalam Kitab-nya yang Ingatlah akan Tuhan kapan saja dimana saja dan bagaimana saja.. Maksudnya dalam ‘jumeneng’, ‘lungguh, kelawan anendra, ing karamen lawan kasepen.. maaf.. basa jawanya kumat.. maksudnya ingatlah Tuhan dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring, dalam keadaan ramai maupun kesepian)

Kliwir celelak-celelek, malah mengajak mem-buktikannya di rumah Kyai eh… Ustadz Salam, tokoh PKB-BTSL (PKB-Betulan Tidak Salah Lagi) yang menjadi anggota MPR merangkap DPR merangkap Ulama kondang, dan teman dekat mantan ketua umum PBNU-ATTT (PBNU-Asli Tulen Tanpa Tiruan).

Di rumah Kyai eh.. Ustadz Salam, Kliwir langsung saja nuwun sewu sebentar saja, kemudian mencomot Kopyah Ustadz Salam. Kontan saja Ustadz Salam yang hapal dengan lagak dan lagu Kliwir maklum dan senyum-senyum sembari menebak-nebak maksud Kliwir. Sementara, Klowor lah yang marah bukan main menyaksikan tingkah Adiknya.

“Heee.. Kliwir, kurang ajar kamu! Mencompot Kethu Haji sembarangan. Itu melecehkan hakekat kehajian dan kekiyai-hajian Ustadz ‘al Mukarom’ Salam, tahu!”

“Halaaaah… wong yang punya kethu saja ridha kok Kang.. tuh malah klecam-klecem senyum-senyum. Kan tadi aku sudah mohon maaf dan nuwun sewu? Ini nih Kang buktinya. Cuman memang bukan Tuma, tapi Bangsat atau Kutu Busuk, Kang… Ah, makaciiih ya Bangsat… Ente ngendon di Kethunya Eyang Salam….”

“Bukti-bukti dengkulmu mlotrok itu. Mana buktinya kalau Bangsat itu sampai kemana-mana, wong cuma di kethu Ustadz Salam saja, ha?”

“Punten ndalem sewu Eyang Salam… Kemarin Panjenengan dari mana, Yang?”

“Lho, kok takon aku dari mana. Ya jelas pulang dari Jakarta Wir, wong diundang oleh kolega di sana. Sebelumnya aku mampir dulu di Balai Sidang Senayan, nyambangi tokoh di sana, terus sebelum ke Jakarta kemarinnya, mampir dulu Ke Grahadi Surabaya… Sambang kolega partai juga… Lha baru kemarin itu naik Argo Gemilang lan Padhang Mbulan… hehehee… lha wong tanpa kaca kok sepurnya, telat sampai stasiun Klaten itu…”

“Apa kopyah atau kethu ini yang dipakai Eyang Salam?”

“Wooo, jelas, lha itu kan ibaratnya perlengkap-anku, identitasku, kan Wir. Kenapa to?”

“Ini lho Yang, Kang Klowor ndak percaya bahwa ada tuma… sayang Kyai ndak tumoan, tetapi di kopyahnya malah ada bangsat… yang mampu menempuh perjalanan dari Gedung Grahadi sampai Ke Gedung MPR/DPR. Lha buktinya kan tuma eh.. bangsat ini ikut Kyai Salam kemana-mana, kan….?”

“Ooooo… itu tadi bangsat di kethuku tah? Pantas bikin gatal kepala melulu…”

“Lha iya to Yang, katanya mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi… kok yang faktual bisa terjadi atas jasa ‘manusia’ malah mustahil bagi Kang Klowor..?”

“Eemmm iya-iya. Yang atas jasa manusia saja bisa terjadi kemustahilan, apalagi atas kehendak Tuhan, ya Wir…Lho ngono lho Wor, Klowor… jangan suka mengungkung diri terlalu banyak. Sesekali dengan akal sehat lah. Malah jadi kurang sehat kan akibatnya., heheheh.”

“Matur nuwun Ustadz Salam…. ” (Klowor menjawab sekenanya, dengan tetap memelototi Kliwir… Merasa kalah pamor dari adiknya!) – (16/5-2002)