Laman

Senin, 24 Mei 2010

Kutu Busuk Kyai Salam

SUATU ketika, menjelang peringatan Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi, saya menerima e-mail dari Mr. Alliq McGellnow yang sedang belajar di Amerika. Isi e-mail sangat lucu dan menggemaskan, tentang persepsi dan keimanan beliau terhadap peristiwa akbar yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad. Semua serba realistik. Sampai-sampai saya membalas e-mail itu dengan memberikan gelar kepadanya menjadi bernama Dr. HC. Alliq McGellnow, MMTmn (Magister of Megelna Temenan, Magister Menjeng-kelkan Betul!).

Mengapa? Karena saya jadi ingat atas keluarga legendaris mantan tetangga saya di kampung, Keluarga Mat Pithi dengan kedua anaknya Klowor dan Kliwir. Klowor anak Mat Pithi yang besar entah sejak kapan, ternyata menjadi simpatisan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Sehingga setiap tingkah laku beragamanya menjadi serba reaksioner dan fundamentalis. Sedang Kliwir lebih tertarik berguru agama kepada tokoh-tokoh sepuh di kampung. Klowor menjadi radikal, sedang Kliwir moderat dan cenderung liberal.

Dasar sifatnya yang lebih banyak mewarisi gaya cengengesan Mat Pithi, Kliwir sebagai adik sangat sering menggoda Klowor dalam bermain logika dan nalar spiritual. Kadang-kadang tingkah menggoda itu sangat keterlaluan, dan serba iseng. Apalagi ketika Klowor ketahuan aparat keamanan sebagai simpatisan NII. Masih untung keterlibatan Klowor belum parah dan akut. Klowor, bukan pelaku langsung. Klowor hanya tidak sadar bahwa ‘tanda tangannya’ sebagai Lurah NII dimanfaatkan anak buahnya untuk kegiatan ‘spanyol’ (sebagian pakai nyolong) dalam rangka mencari dana perjuangan. Klowor mau tidak mau menjadi goyah keyakinannya. Inilah yang menjadi sasaran empuk bagi Kliwir untuk menggoda.

Maka ketika akan memperingati Isra’ Mi’raj, Kliwir menggoda keimanan kakaknya tentang peristiwa besar itu. Sebagai penganut faham radikal-fundamentalis lagi literal, bagi Klowor beriman ya beriman. Sementara Kliwir mengimani peristiwa akbar itu dalam khasanah rasio dan nalar logika.

Dalam rangka mencari legitimasi alasan bernalarnya, Kliwir mengajak Klowor (yang mulai goyah keyakianan radikal-fundamentalisnya, akibat dicerca sana-sini gara-gara jadi Lurah NII) menghadap ke Ustadz Salam. Sebetulnya di kampung Kliwir dulu Ustadz Salam dipanggil Ki atau Kyai Salam, malah ada yang memanggil dengan Mbah Salam. Hanya gara-gara Klowor juga akhirnya Kyai Salam mendapat sebutan Ustadz….

Gara-garanya Klowor merasa jengkel dan minta bukti bahwa cerita Kliwir benar adanya. Kliwir menceritakan kisah perjalanan seekor Tuma (kutu kepala) yang katanya bisa mencapai jarak sangat spektakuler. Bayangkan seekor tuma yang nggremet di atas meja kena sorot lampu saja ‘teler‘ kok kata Kliwir mampu menempuh jarak dari Kampung Podorukun, menuju Gedung Grahadi di Surabaya kemudian mencapai Ruang Sidang MPR/DPR di Senayan, mampir ke Gedung Nusantara I, tempat berkantornya Ketua MPR dan DPR. Kontan saja Klowor mendelik dan menghardik: “Kliwir… jangan macem-macem kau! Mana mungkin Tuma itu menempuh jarak sejauh itu. Kecuali kekuasan Tuhan….” (bolak-balik, dalam pikiran Klowor masih saja Tuhan, Tuhan dan Tuhan. Mungkin karena saking menuruti anjuran dalam Kitab-nya yang Ingatlah akan Tuhan kapan saja dimana saja dan bagaimana saja.. Maksudnya dalam ‘jumeneng’, ‘lungguh, kelawan anendra, ing karamen lawan kasepen.. maaf.. basa jawanya kumat.. maksudnya ingatlah Tuhan dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring, dalam keadaan ramai maupun kesepian)

Kliwir celelak-celelek, malah mengajak mem-buktikannya di rumah Kyai eh… Ustadz Salam, tokoh PKB-BTSL (PKB-Betulan Tidak Salah Lagi) yang menjadi anggota MPR merangkap DPR merangkap Ulama kondang, dan teman dekat mantan ketua umum PBNU-ATTT (PBNU-Asli Tulen Tanpa Tiruan).

Di rumah Kyai eh.. Ustadz Salam, Kliwir langsung saja nuwun sewu sebentar saja, kemudian mencomot Kopyah Ustadz Salam. Kontan saja Ustadz Salam yang hapal dengan lagak dan lagu Kliwir maklum dan senyum-senyum sembari menebak-nebak maksud Kliwir. Sementara, Klowor lah yang marah bukan main menyaksikan tingkah Adiknya.

“Heee.. Kliwir, kurang ajar kamu! Mencompot Kethu Haji sembarangan. Itu melecehkan hakekat kehajian dan kekiyai-hajian Ustadz ‘al Mukarom’ Salam, tahu!”

“Halaaaah… wong yang punya kethu saja ridha kok Kang.. tuh malah klecam-klecem senyum-senyum. Kan tadi aku sudah mohon maaf dan nuwun sewu? Ini nih Kang buktinya. Cuman memang bukan Tuma, tapi Bangsat atau Kutu Busuk, Kang… Ah, makaciiih ya Bangsat… Ente ngendon di Kethunya Eyang Salam….”

“Bukti-bukti dengkulmu mlotrok itu. Mana buktinya kalau Bangsat itu sampai kemana-mana, wong cuma di kethu Ustadz Salam saja, ha?”

“Punten ndalem sewu Eyang Salam… Kemarin Panjenengan dari mana, Yang?”

“Lho, kok takon aku dari mana. Ya jelas pulang dari Jakarta Wir, wong diundang oleh kolega di sana. Sebelumnya aku mampir dulu di Balai Sidang Senayan, nyambangi tokoh di sana, terus sebelum ke Jakarta kemarinnya, mampir dulu Ke Grahadi Surabaya… Sambang kolega partai juga… Lha baru kemarin itu naik Argo Gemilang lan Padhang Mbulan… hehehee… lha wong tanpa kaca kok sepurnya, telat sampai stasiun Klaten itu…”

“Apa kopyah atau kethu ini yang dipakai Eyang Salam?”

“Wooo, jelas, lha itu kan ibaratnya perlengkap-anku, identitasku, kan Wir. Kenapa to?”

“Ini lho Yang, Kang Klowor ndak percaya bahwa ada tuma… sayang Kyai ndak tumoan, tetapi di kopyahnya malah ada bangsat… yang mampu menempuh perjalanan dari Gedung Grahadi sampai Ke Gedung MPR/DPR. Lha buktinya kan tuma eh.. bangsat ini ikut Kyai Salam kemana-mana, kan….?”

“Ooooo… itu tadi bangsat di kethuku tah? Pantas bikin gatal kepala melulu…”

“Lha iya to Yang, katanya mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi… kok yang faktual bisa terjadi atas jasa ‘manusia’ malah mustahil bagi Kang Klowor..?”

“Eemmm iya-iya. Yang atas jasa manusia saja bisa terjadi kemustahilan, apalagi atas kehendak Tuhan, ya Wir…Lho ngono lho Wor, Klowor… jangan suka mengungkung diri terlalu banyak. Sesekali dengan akal sehat lah. Malah jadi kurang sehat kan akibatnya., heheheh.”

“Matur nuwun Ustadz Salam…. ” (Klowor menjawab sekenanya, dengan tetap memelototi Kliwir… Merasa kalah pamor dari adiknya!) – (16/5-2002)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar