Laman

Minggu, 13 Desember 2015

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia #2

Nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis

            Kita semua menyadari bahwa Indonesia merupakan bangsa dan negara multikultur yang unsur-unsurnya (ketika diberdirikan) sebagian besar tidak memiliki kedaulatan.  Pada unsur-unsur yang kehilangan kedaulatan akibat dijajah pada kenyataannya memiliki nilai-nilai budaya yang azali dan sudah mbalung sungsum pada warga unsur-unsur tersebut.  Sementara, di lain pihak, unsur-unsur lain yang tertinggal dalam peradaban justru memiliki kedaulatan azali yang tidak pernah dikooptasi oleh penjajah. Maka kondisi multikultur ini, merupakan suatu ‘tantangan besar’ untuk dikelola sedemikian rupa cerdas untuk ‘menyatu’ (manunggal, jw.)  lahiriah, batiniah, dan Tuhaniah (istilah BK) dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
            Panduan pengelolaan secara cerdas dari banyak perbedaan unsur-unsur Indonesia termaktub dengan sangat jelas pada Pembukaan UUD 1945.  Kajian kita mendalam tentang isi kandungan Pembukaan UUD tersebut, menyatakan bahwa disain NKRI yang dikehendaki para Founding Fathers kita ternyata merupakan negara dan bangsa baru yang modern, bercitra, dan dihormati negara-negara lain.  Maka secara spiritual NKRI merupakan negara dan bangsa yang bertatanilai peradaban tinggi, berideologi universal (Pancasila), dan berperanan dalam ‘tata pergaulan dunia’.  Dengan demikian, nilai-nilai Indonesia merupakan suatu idealisme yang bernilai luhur dan paripurna untuk kepentingan bernegara dan berbangsa.  Maknanya, bahwa menjadi Indonesia akan memiliki nilai-nilai lebih luhur dibanding nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis.
Meng-Indonesia berarti membangun kesadaran untuk berintegrasi secara tuntas kepada Indonesia.  Integrasi tuntas bukan dimaksud sebagai menafikan dan meninggalkan tatanilai budaya dan peradaban unsur-unsur.  Juga bukan sebagai ‘genocyde’ terhadap unsur-unsur yang tertinggal dalam peradaban.  Namun merupakan upaya membangun ‘kesetaraan’ antar unsur sebagai prasyarat mutlak berdirinya Indonesia sebagai negara dan bangsa modern yang berkesejahteraan sosial.  Adalah misteri Illahi, bahwa kenyataannya Indonesia bisa diberdirikan meskipun unsur-unsur pembangunnya berasal dari unsur terjajah dan sebagian masih tertinggal dalam peradaban (primitif).
            Kita semua sadar bahwa nilai-nilai budaya dan peradaban azali sukubangsa atau etnis kita sering menjadi kendala dalam proses meg-Indonesia.  Setidaknya, dalam relung batin kita masing-masing sering merasa ‘kehilangan’ identitas suku dan etnis ketika ‘wajib’ berubah menjadi Indonesia.  Kita semua selalu merasa nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis masing-masing sebagai nilai-nilai yang paripurna, terbaik.  Padahal, kenyataan yang harus diingat, bahwa nilai-nilai azali sukubangsa dan etnis yang kita anggap luhur sudah usang, jumud, dan tak sanggup melawan penjajahan.  Ambil contoh tentang nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang selalu dianggap adiluhung, pada kenyataannya justru Jawa adalah unsur Indonesia yang paling intensif terjajah Belanda dan Jepang.  Maka, maaf pemakalah adalah orang Jawa, berani beranggapan bahwa tatanilai budaya dan peradaban Jawa termasuk usang dan jumud hingga perlu direvitalisasi agar bisa dipersembahkan kepada Indonesia dan kemaslahatan umat manusia.  Wacana revitalisasi nilai-nilai budaya peradaban Jawa dan unsur-unsur Indonesia yang lain mungkin perlu diseminarkan atau diagendakan dalan sarasehan tersendiri.
            Dalam banyak kesempatan bersarasehan ataupun berdiskusi, pemakalah sering menyatakan bahwa Indonesia bisa kita ibaratkan sebagai ‘tabung reaksi’ yang memproses berbagai unsur (sukubangsa dan etnis) untuk melebur menjadi suatu senyawa (kesatuan) baru, bangsa Indonesia.  Proses peleburan untuk menghasilkan Indonesia butuh waktu dan perjuangan dari seluruh rakyat Indonesia. 

Atas dasar pengertian bahwa pada jiwanya rakyat Indonesia telah tersemaikan ‘wiji spiritual Indonesia’, maka sesungguhnya pada jiwa rakyat sudah memiliki kehendak bersama untuk bersatu sebagai bangsa.  Namun kenyataan, banyak elit unsur-unsur yang oleh kepenting individualnya berusaha memanipulasi ‘kehendak suci’ warga unsusr-unsur meng-Indonesia itu untuk ‘mbalela’.  Pemanipulasian tersebut mewujud dalam berbagai kemasan palsu.  Diantaranya, berupa pengingkaran dan ‘penguburan’ ideologi Pancasila untuk diganti ideologi lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar