Nilai-nilai budaya dan peradaban agama yang dipeluk
Sudah sejak jaman kuno, bumi Nusantara merupakan wilayah dunia yang menjadi sasaran penyebaran agama-agama besar dunia. Maka kemudian rakyat Nusantara menjadi pemeluk agama-agama tersebut. Disamping itu, ada agama-agama lokal yang ternyata tetap eksis meskipun tidak terakui oleh Pemerintahan Negara.
Setiap agama dan kepercayaan membawa serta budaya dan peradaban dari tempat agama itu berasal. Di
Nusantara, nilai-nilai yang dibawa serta agama-agama berinteraksi
saling pengaruh mempengaruhi sedemikian rupa dinamis hingga terjadi
sinergi dan sinkretisme nilai-nilai. Sinkretisme tersebut pada jamannya ternyata mampu mengampu kepentingan kehidupan sosial kemasyarakatan dengan baik. Hal
itu bisa dibuktikan dengan menghadirkan kejayaan Sriwijaya, Syailendra
& Sanjaya, Majapahit, sampai kepada eksisnya kesultanan-kesultanan
Islam di seluruh wilayah Nusantara.
Dinamika pergaulan antar bangsa dan negara di dunia sejak jaman kuno ternyata penuh konflik kepentingan. Demikian
pula sebaran berbagai agama di Nusantara tidak lepas dari kepentingan
untuk ‘menguasai’ Nusantara yang subur makmur dan kaya raya sumber daya
alamnya. Kepentingan kerajaan-kerajaan India terhadap penguasaan Nusantara menggunakan penyebaran agama Hindu dan Buda. Demikian
pula sebaran agama Islam dimanfaatkan untuk kooptasi Arab/Persia
terhadap Nusantara. Meski perlu dikaji mendalam, kemungkinan sebaran
agama Kristiani juga dimanfaatkan oleh penjajah Belanda. Barangkali
hanya upaya kooptasi Cina dan Jepang terhadap Nusantara yang tidak
menggunakan sebaran agama, tetapi lebih menggunakan kekuatan ekonomi dan
militer.
Berdasar bukti sejarah, maka upaya kooptasi menggunakan sebaran agama di Nusantara pernah berhasil. Maka kemudian tersebarkan nilai-nilai budaya dan peradaban asal agama-agama tersebut di Nusantara. Adalah
kenyataan sejarah bahwa nilai-nilai budaya dan peradaban agama-agama
dari manca tersebut sudah membawa serta ‘nuansa konflik’ sejak dari
tanah asalnya. Nuansa konflik tersebut secara nyata
mewujud dalam konflik antara Wangsa Syailendra (Buda) dengan Wangsa
Sanjaya (Hindu) di Mataram Kuno. Juga
mengemuka dalam konflik Sriwijaya (Buda) dengan Cola di India yang
Hindu. Dalam hal konflik ini, kerajaan Cola perlu membela komunitas
Tamil (Hindu) yang mendapatkan perlakuan tidak adil dari penguasa
Sriwijaya (Buda).
Konflik
Buda dan Hindu (Syiwa) mampu diredam di jaman Majapahit dengan
keluarnya filsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa’ oleh
Empu Tantular. Namun kemudian peredaman ini tidak berjalan
ketika Nusantara menerima sebaran Islam. Banyak daerah kekuasaan
Majapahit yang sudah mayoritas memeluk agama Islam melepaskan diri dari
Majapahit yang diposisikan sebagai ‘kerajaan kafir’. Ujungnya berupa runtuhnya Majapahit.
Terlepas
dari kenyataan sejarah jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan di Nusantara
atas pengaruh sebaran agama, realitas yang ada di tengah masyarakat
Indonesia sekarang ini berlaku nilai-nilai budaya dan peradaban dari
agama yang dipeluk masing-masing. Maka ketika kita sepakat
mewujudkan nilai-nilai Indonesia sebagai negara dan bangsa modern,
berkesejahteraan sosial, bercitra, dan dihormati negara lain, butuh
pengelolaan cerdas dari nilai-nilai agama yang kita peluk masing-masing. Adalah
suatu kemustahilan membangun bangsa yang bersatu ketika bangsa tersebut
tidak mampu mengelola secara cerdas perbedaan tatanilai warga bangsanya
atas dasar agama yang dipeluk.
Mempersatukan
‘tatanilai’ atas dasar pemelukan agama yang berbeda memang tidak mudah.
Maka banyak negara di dunia melepaskan (memisahkan) urusan agama dengan
urusan kenegaraan. Sekularisme dijadikan pijakan menjalankan pemerintahan negara. Namun sekularisme tidak cocok untuk Indonesia yang rakyatnya memiliki kesadaran ber-Tuhan (religius) mendalam. Maka
dasar utama untuk mempersatukan nilai-nilai budaya dan peradaban dari
perbedaan agama yang dipeluk adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Adalah makna ber-Tuhan yang mendalam dan lintas budaya. Aatau oleh Bung Karno dinyatakan sebagai berketuhanan secara budaya. Artinya, ekspresi dan implementasi ber-Tuhan yang hakiki yang menumbuhkan sikap saling menghormati antar pemeluk agama.
Untuk
memahami makna saling menghormati antar pemeluk agama ini kiranya bisa
diinternalisasikan falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang dicetuskan Mpu
Tantular. Bagaimanapun semua ajaran agama memuat tentang
spiritualisme yang inti dasarnya berupa ajaran mengoptimalkan kesadaran
ber-Tuhan, kesadaran kosmis (kesemestaan), dan kesadaran keberadaban. Maka tidak ada dharma (kebenaran) yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar