Laman

Minggu, 13 Desember 2015

Tinjauan Spiritualisme Eksistensi Indonesia #4

Nilai-nilai budaya dan peradaban modern

            Di depan telah dikemukakan bahwa disain NKRI adalah negara modern, maka semua tata nilai modern yang bisa membawa kesejahteraan sosial seluruh rakyat bisa diterima.  Namun demikian, sebagai negara dan bangsa berdaulat sudah barangtentu melakukan filter (pemilihan dan pemilahan) nilai-nilai mordernisasi tersebut.  Pemfilteran terjadi bukan merupakan penerapan kebijaksanaan tata kelola pemerintahan saja, namun secara ‘alamiah adi kodrati’ akan dilakukan secara spiritual seluruh rakyat. Landsan pemikirannya, bahwa di jiwanya rakyat Indonesia telah tersemaikan ‘wiji spiritual Indonesia’ yang akan operasional secara alamiah untuk menangkal berkembangnya ide-ide yang tidak cocok dengan jatidiri Indonesia, Pancasila.
            Alur pemikiran ini memang terkesan ‘nyleneh’ dan ‘jauh panggang dari api’.  Namun bukti-bukti empiris terbukti di lapangan.  Sebagai contoh, pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini boleh dikatakan sebagai loncatan kemajuan yang mencengangkan.  Banyak pakar memperkirakan kita tidak mampu melaksanakan asas-asas demokrasi tersebut, ternyata kemudian Indonesia mampu melaksanakan sistim pemilu/pilkada langsung oleh rakyat dengan mulus.  Hal ini membuktikan bahwa kita mampu menyelenggarakan tata kelola pemerintahan negara yang modern, demokratis.
            Keberhasilan berdemokrasi tersebut mengindikasikan bahwa secara spiritual jiwa rakyat Indonesia benar-benar telah memiliki kesadaran bernegara secara modern.  Maka sebenarnya kita sangat optimis tentang masa depan Indonesia.  Kondisi yang sekarang dianggap terpuruk dan carut marut adalah kondisi sementara yang pasti berubah menuju tatanan yang paripurna sebagaimana dicitakan para pendiri bangsa kita. 
            Nilai-nilai budaya dan peradaban modern sebagai dampak globalisasi memang akan berpengaruh terhadap perubahan-perubahan sistim sosial kemasyarakatan.  Namun dengan mengingat bahwa disain Indonesia sebagai negara modern yang berkesejahteraan sosial sudah secara spiritual menghuni jiwanya rakyat akan menumbuhkan optimisme untuk mampu mengelola berbagai pengaruh tersebut.  Optimisme ini bertolak dari kenyataan bahwa nilai-nilai Pancasila, meski tidak banyak dibicarakan lagi, pada kenyataannya telah melekat dan menjadi naluri alamiah rakyat Indonesia secara spirituil.  Alasannya, bahwa Pancasila bukan hasil rekayasa, tetapi digali dari bumi pertiwi Indonesia sendiri.  Dalam hal ini pemakalah mewacanakan bahwa Pancasila memang ada di ‘gugus geo spiritual Indonesia’ dan manunggal dengan ‘wiji spiritual Indonesia’ yang melekat di jiwanya rakyat Indonesia. 
            Panunggalan ‘gugus geo spiritual Indonesia’ dengan ‘wiji spiritual Indonesia’ merupakan hubungan kosmis-magis adikodrati yang kendalinya ada kuasa Tuhan Yang Maha Esa.  Panunggalan tersebut yang digali Bung Karno saripati nilai-nilainya, kemudian dirumuskan sebagai Pancasila dan dijadikan dasar dan ideologi NKRI.  Maka dengan demikian Pancasila merupakan ideologi yang paling tepat bagi bangsa Indonesia.  Disamping sebagai ‘way of life’ dan ‘struggle for life’, juga merupakan benteng pertahanan untuk tetap menjaga eksisnya NKRI. 
            Pada saat ini banyak yang beranggapan bahwa Pancasila sudah ‘dilupakan’ dan perlu diganti dengan ideologi lain.  Namun anggapan yang demikian sekedar tinjauan ranah lahiriah semata.  Secara spiritual nilai-nilai Pancasila melekat erat di ruang batin seluruh rakyat Indonesia karena merupakan ideologi yang lahir dari suatu proses adikodrati.  Kalau toh kenyataannya banyak upaya meninggalkannya, namun kita boleh yakin bahwa secara spiritual tak mungkin hilang dari sanubari terdalamnya seluruh rakyat Indonesia.  Segencar apapun upaya ‘melindas’ dan ‘mengkooptasi’ dengan ideologi lain, maka rakyat Indonesia akan tetap teguh mempertahankan Pancasila di ruang terdalam batinnya.  Semua ideologi lain yang dicobakan untuk mengganti bisanya hanya di lapis luar.  Demikian pula nilai-nilai liberalisme produk modernisasi akan terjinakkan oleh nilai-nilai Pancasila yang lebih kuat mengisi jiwanya rakyat Indonesia.

Penutup
            Wacana tersaji pada makalah ini merupakan tinjauan berdasarkan perenungan spiritual.  Maka dimungkinkan kurang bisa diterima oleh banyak pihak yang lebih mengutamakan aras empiris.  Namun demikian, pemakalah ingin menyampaiakan suatu bahan kajian bersama atas konsep adanya ‘gugus geo spiritual Indonesia’ sebagai plasma (mancapat, jw) dan ‘wiji spiritual Indonesia’ pada ‘inner’ insan Indonesia sebagai inti (pancer, jw.).  Suatu hubungan inti-plasma atau ‘pancer-mancapat’ yang sejalan dengan kenyataan panunggalan seluruh struktur semesta yang kekal abadi meski secara dinamis juga mengalami perubahan. 
            Kesimpulannya, bahwa ada hubungan spiritual kosmis magis antara kawula Indonesia dengan NKRI yang adikodrati. Bahwa kemudian ‘hubungan kosmis magis’ tersebut dirumuskan sebagai ideologi Pancasila adalah sangat tepat sekali.  Dengan demikian, Pancasila merupakan satu-satunya ideologi yang secara spirituil mampu menjaga eksistensi Indonesia.  Swuhn.


Semarang, Agustus 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar