Oleh: Ki Denggleng Pagelaran
Para sejawat,
Memperhatikan e-mail Kang Sondong yang sudah berani memasang gelar “Ki”-nya lagi, yang salah satu intinya adalah mengemukakan hakekat (pepesthen) ketelanjangan manusia (jalma wuda) dari “mantra sengara” dan “joborolo, mokoholo, hosoropolo dan hojorolo” dari Lajang Jojobojo, saya jadi ingat sesuatu tentang sastra tulis kuno. Yaitu dari Mesir kuno dengan Hieroglyph nya.
Nama asli hiroglif kalau tak salah Medu Netcher (bahasa Mesir kuno) yang arti harfiahnya “Bahasa Dewata” atau Hiero Glyphos atau apa begitu dalam bahasa Yunani. Pernah saya tulis dalam e-mail berbahasa Jawa di kaljw, arek-suroboyo, sknap dan jawa “Mangatology” yang saya ambil dari pengertian Ma’atyang merupakan dewa tertinggi bangsa Mesir yang dipercaya sebagai pencipta dan pemelihara jagad raya. Dalam mitologi Mesir, Ma’at kemudian bermanifestasi menjadi dewa-dewa Mesir seperti Osiris, Iris dan lain-lain yang umumnya disimbulkan “Kahiyangannya” berupa bintang-bintang atau rasi bintang.
Nah Ma’at mencipta dan memelihara jagad raya (sebagai rabb al – ‘alamiin dalam konsep al-Fatihah-nya Ustadz Chodjim), adalah berdasarkan “benar” dan “titah”. Tidak ada penyelewengan perjalanan jagad raya atas kehendak Ma’at. Semua serba benar, itulah mungkin yang menurut konsep Arab diberi nama malaikat. Malaikat tak terhitung, dan semua serba patuh sesuai kodrat dan tugasnya.
Manusia (dalam konsep Mesir) rupanya berimpit benar dengan konsep al-insan dan jalma, yaitu menjadi makhluk gabungan spiritual dan ragawi. Raga bagi bangsa Mesir merupakan wahana penyempurnaan suksma, sehingga para orang terhormat ketika meninggal diusahakan agar raga itu awet, dengan dimumikan. (Beberapa suku bangsa kuno ternyata memakai konsep mumi ini untuk merawat jenasah, meskipun berbeda-beda metode dan penyemayamannya).
Jadi hidup adalah perjalanan dari dan menuju Ma’at. Oleh karena itu orang Mesir kuno menteorikan Ma’at pasti memberikan “petunjuk”, memberikan panduan hidup. Juga orang Mesir berteori bahwa semua yang tergelar (terlihat maupun ghaib) selalu berupa kenyataan. Ciri khas kenyataan adalah dapat dipahami.
Pemahaman selanjutnya Ma’at mengajarkan petunjuk itu berupa simbol dan gambar. Itu tersebar di seluruh gelaran jagad raya. Akhirnya orang Mesir menemukan simbolisasi “sastra” berupa aksara hieroglyphe (ada sekitar 700an simbol).
Simbol-2 itu berupa gambar-gambar stilir makhluk hidup dan segala ciptaan. Seperti kalajengking, air, gunung, matahari, orang, kayu (pohon) dan lain-lain, untuk menjelaskan “ucapan” dan maksud “kata”. Cara mengungkapkan adalah dengan 2 simbol untuk satu kata. Tetapi dari kata yang diekspresikan yang dibaca adalah “konsonan”-nya. Jadi kalau digunakan bahasa Jawa, misalnya kucing, maka yang dibaca cukup “kcng”, digambar dengan simbul kucing. Tetapi perlu dipertegas, karena ada kata lain dengan unsur konsonan yang sama “kcng” misalnya “kacang”. Jadi bila orang Mesir kuno menulis kucing, ditulisnya dengan dua simbul, misalnya jadi gambar kucing dan simbul “berjalan”.
Nah, itu ada kemiripan dengan mantra sengara dan lajang-jojobojo. Yang menggunakan aksara carakan nglegena (telanjang). Sembah Gusti, menjadi “somoboho gosotoho” yang kalau dibaca konsonannya saja menjadi “smbh gsth”. Sama juga misalnya diwujudkan dalam karakter Jepang bisa menjadi samabaha-gasataha… dengan huruf lain bisa juga begitu.
Bedanya, simbolasi aksara-aksara non-hieroglif sudah lebih lanjut menjadi lambang ucapan, bukan lagi simbol materi ucapan. Ini menandakan lebih majunya abstraksi budaya-budaya itu dibandingkan budaya Mesir kuno.
Yang jelas ada benang merah tentang hakekat nglegena, substansi ketelanjangan. Juga termasuk menakjubkan adalah bahwa sebenarnya awal-awalnya konsep bahasa dewata itu berbasis faham “Monotheisme” paling tidak “Monolatry” (berpaham dewa banyak, tetapi ada Maha Dewa yang paling berkuasa – fahamnya masyarakat Babilonia jaman Ibrahim).
Nah, dengan begitu saya tinggal merenungi firman Tuhan dalam QS 49:13: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal… dst”. Dan dari tinjauan ekosistem serta geografi kuno, tempat yang paling memungkinkan untuk perkembang-biakan manusia itu adalah kondisi “tropika”, yang semula di Afrika, tetapi karena kekeringan menimpa benua itu, menyebabkan “bakalan” manusia bermigrasi ke mana-mana. Nusantara yang sejak 30 juta tahun yang lalu tetap melekat di Khatulistiwa dengan alam segar kaya flora-fauna menurut pendapat saya sangat cocok untuk menciptakan keragaman makhluk hidup. Kita sekarang pun sebagai bangsa Indonesia juga paling banyak bersuku-suku dibandingkan bangsa-bangsa lain…. hehehe…. ah, ini sekedar merenung.
Namun hasilnya, saya menjadi sadar bahwa budaya dan peradapan Nusantara, pastilah jauh lebih tua dibandingkan yang dipersangkakan para ahli. Permasalahannya adalah bahwa jejak-jejak budaya bangsa-bangsa itu di Nusantara sebagian besar terendam laut ketika jaman es terakhir berakhir (sekitar 11.600 tahun yang lalu, kalau menurut cerita Plato), yang kebetulan menjadi acuan dasar dari sistem kalender suku Maya…
Lho, kok kemana-mana? Ya, deh… pokoknya Bahasa Dewata itu berintikan ketelanjangan, dan itu ada disegenap suku bangsa di dunia. Dan itu untuk segala makhluk ciptaan Tuhan. Maka tak heran kalau ada pendapat bahasa dewata semacam itu dipahami pula oleh para yang ghaib…. Apa begitu, ya? [KDP, 28/5-2005]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar