Nilai-nilai budaya dan peradaban modern
Di
depan telah dikemukakan bahwa disain NKRI adalah negara modern, maka
semua tata nilai modern yang bisa membawa kesejahteraan sosial seluruh
rakyat bisa diterima. Namun demikian, sebagai negara dan
bangsa berdaulat sudah barangtentu melakukan filter (pemilihan dan
pemilahan) nilai-nilai mordernisasi tersebut. Pemfilteran
terjadi bukan merupakan penerapan kebijaksanaan tata kelola pemerintahan
saja, namun secara ‘alamiah adi kodrati’ akan dilakukan secara
spiritual seluruh rakyat. Landsan pemikirannya, bahwa di jiwanya rakyat
Indonesia telah tersemaikan ‘wiji spiritual Indonesia’ yang akan
operasional secara alamiah untuk menangkal berkembangnya ide-ide yang
tidak cocok dengan jatidiri Indonesia, Pancasila.
Alur pemikiran ini memang terkesan ‘nyleneh’ dan ‘jauh panggang dari api’. Namun bukti-bukti empiris terbukti di lapangan. Sebagai contoh, pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini boleh dikatakan sebagai loncatan kemajuan yang mencengangkan. Banyak
pakar memperkirakan kita tidak mampu melaksanakan asas-asas demokrasi
tersebut, ternyata kemudian Indonesia mampu melaksanakan sistim
pemilu/pilkada langsung oleh rakyat dengan mulus. Hal ini membuktikan bahwa kita mampu menyelenggarakan tata kelola pemerintahan negara yang modern, demokratis.
Keberhasilan
berdemokrasi tersebut mengindikasikan bahwa secara spiritual jiwa
rakyat Indonesia benar-benar telah memiliki kesadaran bernegara secara
modern. Maka sebenarnya kita sangat optimis tentang masa depan Indonesia. Kondisi
yang sekarang dianggap terpuruk dan carut marut adalah kondisi
sementara yang pasti berubah menuju tatanan yang paripurna sebagaimana
dicitakan para pendiri bangsa kita.
Nilai-nilai
budaya dan peradaban modern sebagai dampak globalisasi memang akan
berpengaruh terhadap perubahan-perubahan sistim sosial kemasyarakatan. Namun
dengan mengingat bahwa disain Indonesia sebagai negara modern yang
berkesejahteraan sosial sudah secara spiritual menghuni jiwanya rakyat
akan menumbuhkan optimisme untuk mampu mengelola berbagai pengaruh
tersebut. Optimisme ini bertolak dari kenyataan bahwa
nilai-nilai Pancasila, meski tidak banyak dibicarakan lagi, pada
kenyataannya telah melekat dan menjadi naluri alamiah rakyat Indonesia
secara spirituil. Alasannya, bahwa Pancasila bukan hasil rekayasa, tetapi digali dari bumi pertiwi Indonesia sendiri. Dalam hal ini pemakalah mewacanakan bahwa Pancasila memang ada di ‘gugus geo spiritual Indonesia’ dan manunggal dengan ‘wiji spiritual Indonesia’ yang melekat di jiwanya rakyat Indonesia.
Panunggalan
‘gugus geo spiritual Indonesia’ dengan ‘wiji spiritual Indonesia’
merupakan hubungan kosmis-magis adikodrati yang kendalinya ada kuasa
Tuhan Yang Maha Esa. Panunggalan tersebut yang digali Bung
Karno saripati nilai-nilainya, kemudian dirumuskan sebagai Pancasila
dan dijadikan dasar dan ideologi NKRI. Maka dengan demikian Pancasila merupakan ideologi yang paling tepat bagi bangsa Indonesia. Disamping sebagai ‘way of life’ dan ‘struggle for life’, juga merupakan benteng pertahanan untuk tetap menjaga eksisnya NKRI.
Pada saat ini banyak yang beranggapan bahwa Pancasila sudah ‘dilupakan’ dan perlu diganti dengan ideologi lain. Namun anggapan yang demikian sekedar tinjauan ranah lahiriah semata. Secara
spiritual nilai-nilai Pancasila melekat erat di ruang batin seluruh
rakyat Indonesia karena merupakan ideologi yang lahir dari suatu proses
adikodrati. Kalau toh kenyataannya banyak upaya
meninggalkannya, namun kita boleh yakin bahwa secara spiritual tak
mungkin hilang dari sanubari terdalamnya seluruh rakyat Indonesia. Segencar
apapun upaya ‘melindas’ dan ‘mengkooptasi’ dengan ideologi lain, maka
rakyat Indonesia akan tetap teguh mempertahankan Pancasila di ruang
terdalam batinnya. Semua ideologi lain yang dicobakan untuk mengganti bisanya hanya di lapis luar. Demikian
pula nilai-nilai liberalisme produk modernisasi akan terjinakkan oleh
nilai-nilai Pancasila yang lebih kuat mengisi jiwanya rakyat Indonesia.
Penutup
Wacana tersaji pada makalah ini merupakan tinjauan berdasarkan perenungan spiritual. Maka dimungkinkan kurang bisa diterima oleh banyak pihak yang lebih mengutamakan aras empiris. Namun
demikian, pemakalah ingin menyampaiakan suatu bahan kajian bersama atas
konsep adanya ‘gugus geo spiritual Indonesia’ sebagai plasma (mancapat, jw) dan ‘wiji spiritual Indonesia’ pada ‘inner’ insan Indonesia sebagai inti (pancer, jw.). Suatu
hubungan inti-plasma atau ‘pancer-mancapat’ yang sejalan dengan
kenyataan panunggalan seluruh struktur semesta yang kekal abadi meski
secara dinamis juga mengalami perubahan.
Kesimpulannya, bahwa ada hubungan spiritual kosmis magis antara kawula Indonesia dengan NKRI yang adikodrati. Bahwa kemudian ‘hubungan kosmis magis’ tersebut dirumuskan sebagai ideologi Pancasila adalah sangat tepat sekali. Dengan demikian, Pancasila merupakan satu-satunya ideologi yang secara spirituil mampu menjaga eksistensi Indonesia. Swuhn.
Semarang, Agustus 2008.