YAH meskipun Kliwir sering mempecundangi Klowor dalam berdebat masalah agama dan keimanan, sebagai anak yang mulai menanjak dewasa dia pun sedang getol-getolnya sekolah ngaji (seperti kolega saya Mr. Alliq McGellnow). Maklum sebagai mahasiswa ‘anyaran‘, baru diterima dan mulai kuliah, Kliwir sering mendapat responsi agama di kampus oleh para kakak-kakak asisten agama (rohis). Di kampus Kliwir mendapat petuah dari kakak-kakak asisten, agar sebagai lelaki dewasa memelihara jenggot!
Dasar Kliwir yang masih polos, tetapi sering menggodai kakaknya, langsung bertanya, “Kak, apa bedanya Jenggot dengan Kumis kan sama-2 pertanda kelaki-lakian yang boleh dipertontonkan?” sambil cengar-cengir karena ditertawai teman-temannya.
“Ah, Dik Kliwir ini, ini Sunah Nabi lho Dik, jangan didebat dulu. Konon janggut atau jenggot itu kan tempat bergelantungannya para malaikat?”
Kliwir kaget bukan alang kepalang. Nalarnya langsung bekerja. Sayang hasilnya dia harus menahan ketawa dan minta ijin ke belakang, pengin pipis. “Masak iya sih, janggut eh.. jenggot (soalnya janggut dalam bahasanya Kliwir sama dengan DAGU) tempat bergelantungannya malaikat? Ah, kasihan Emak dong, kan ndak bakalan digelantungi malaikat? Apa malaikatnya malah ‘glandhotan‘ atau minta gendong sekalian? Terus kalau begitu enakan orang darah Indo-Aria atau Semitis yang tuebel-tuebel jenggotnya. Kasihan Kyai Haji Salam yang janggut eh.. jenggot-nya cumak beberapa utas” pikir Kliwir yang membuatnya menahan tertawa itu.
Kliwir penasaran dan berniat menemui Kyai Salam. Bertemu langsung bertanya. “Maaf Eyang Salam, cucu-murid mau bertanya, apakah benar janggut eh… jenggot itu tempat bergelantungannya malaikat?”
“Ah, Thole Kliwir, mesthi kowe dapat keterangan dari kakak-kakakmu yang sedang getol menyiarkan agama kan Le? Kalau menurut nalar, memang meng-gelikan seperti apa yang kamu rasakan sehingga kamu tadi pamit ke belakang, kebelet pipis…”
[Kliwir trataban, terkejut-kejut, mengapa Kyai Salam tahu apa yang telah dia alami? Apa ada yang lapor kepada Kyai Salam? Kalau ada, siapa ya diantara teman-temannya? Orang dari kampungnya hanya dia seorang yang jadi Mahasiswa... ?]
“Tapi kalau dirasa-rasakan ya memper dan benar kok Le. Mangkanya walaupun sedikit aku piara juga jenggot. Kumis malah kucukur klimis wong malah kayak Sengkuni…. hehehe. Benarnya, jenggot itu pertanda kelaki-lakian yang boleh dipertontonkan. Yang lainnya paling hanya suara. Tapi kan ada juga laki-laki yang suaranya ngemprek.. kaya Pak Joyoboyonya mendiang Ki Umar Kayam itu lho, Le. Jadi perlu ada tanda. Lha setelah punya tanda eh… tanda yang lain yang berhubungan dengan ‘kejantanan’ dan sifat ‘ruda-paksa’ jangan ditonjolkan…”
“Sebentar Kyai… kok tadi ndak disambung wejangannya malah berhenti pada setelah punya tanda….?”
“Sik tah.. ini terusannya, setelah punya tanda kelaki-lakian, maka si orang tadi ya harus bersikap laki-laki. Laki-laki yang dilindungi dan dishalawati para malaikat. Jujur, teguh, tegas, teges, melindungi lawan jenis, dan lain-lain perbuatan baik untuk sesamanya. Baik sesama laki-laki yang juga bermalaikat, atau membuat agar laki-laki lain menemukan malaikatnya masing-masing, dan yang paling penting, jangan mudah terusir malaikatnya itu, bila dekat-dekat dengan lawan jenis… Karena seharusnya lawan jenis itu lebih dapat memantapkan bersemayamnya malaikat. Tidak saja bergelantungan di jenggot.. tapi di sini (menunjuk ke arah dada). Dan jangan gampang kebakaran jenggot, kalau begitu berarti setan yang bergelantungan…. hehehee….”
Kliwir pusing berkunang-kunang… “Waduh Kyai Salam, besok lagi saja nggih… Mumet, pusing saya.
[repost dari pernik-pernik nalar spiritual wordpress]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar