Laman

Senin, 24 Mei 2010

Medu Netcher

Oleh: Ki Denggleng Pagelaran
Para sejawat,

Memperhatikan e-mail Kang Sondong yang sudah berani memasang gelar “Ki”-nya lagi, yang salah satu intinya adalah mengemukakan hakekat (pepesthen) ketelanjangan manusia (jalma wuda) dari “mantra sengara” dan “joborolo, mokoholo, hosoropolo dan hojorolo” dari Lajang Jojobojo, saya jadi ingat sesuatu tentang sastra tulis kuno. Yaitu dari Mesir kuno dengan Hieroglyph nya.

Nama asli hiroglif kalau tak salah Medu Netcher (bahasa Mesir kuno) yang arti harfiahnya “Bahasa Dewata” atau Hiero Glyphos atau apa begitu dalam bahasa Yunani. Pernah saya tulis dalam e-mail berbahasa Jawa di kaljw, arek-suroboyo, sknap dan jawa “Mangatology” yang saya ambil dari pengertian Ma’atyang merupakan dewa tertinggi bangsa Mesir yang dipercaya sebagai pencipta dan pemelihara jagad raya. Dalam mitologi Mesir, Ma’at kemudian bermanifestasi menjadi dewa-dewa Mesir seperti Osiris, Iris dan lain-lain yang umumnya disimbulkan “Kahiyangannya” berupa bintang-bintang atau rasi bintang.

Nah Ma’at mencipta dan memelihara jagad raya (sebagai rabb al – ‘alamiin dalam konsep al-Fatihah-nya Ustadz Chodjim), adalah berdasarkan “benar” dan “titah”. Tidak ada penyelewengan perjalanan jagad raya atas kehendak Ma’at. Semua serba benar, itulah mungkin yang menurut konsep Arab diberi nama malaikat. Malaikat tak terhitung, dan semua serba patuh sesuai kodrat dan tugasnya.

Manusia (dalam konsep Mesir) rupanya berimpit benar dengan konsep al-insan dan jalma, yaitu menjadi makhluk gabungan spiritual dan ragawi. Raga bagi bangsa Mesir merupakan wahana penyempurnaan suksma, sehingga para orang terhormat ketika meninggal diusahakan agar raga itu awet, dengan dimumikan. (Beberapa suku bangsa kuno ternyata memakai konsep mumi ini untuk merawat jenasah, meskipun berbeda-beda metode dan penyemayamannya).

Jadi hidup adalah perjalanan dari dan menuju Ma’at. Oleh karena itu orang Mesir kuno menteorikan Ma’at pasti memberikan “petunjuk”, memberikan panduan hidup. Juga orang Mesir berteori bahwa semua yang tergelar (terlihat maupun ghaib) selalu berupa kenyataan. Ciri khas kenyataan adalah dapat dipahami.

Pemahaman selanjutnya Ma’at mengajarkan petunjuk itu berupa simbol dan gambar. Itu tersebar di seluruh gelaran jagad raya. Akhirnya orang Mesir menemukan simbolisasi “sastra” berupa aksara hieroglyphe (ada sekitar 700an simbol).

Simbol-2 itu berupa gambar-gambar stilir makhluk hidup dan segala ciptaan. Seperti kalajengking, air, gunung, matahari, orang, kayu (pohon) dan lain-lain, untuk menjelaskan “ucapan” dan maksud “kata”. Cara mengungkapkan adalah dengan 2 simbol untuk satu kata. Tetapi dari kata yang diekspresikan yang dibaca adalah “konsonan”-nya. Jadi kalau digunakan bahasa Jawa, misalnya kucing, maka yang dibaca cukup “kcng”, digambar dengan simbul kucing. Tetapi perlu dipertegas, karena ada kata lain dengan unsur konsonan yang sama “kcng” misalnya “kacang”. Jadi bila orang Mesir kuno menulis kucing, ditulisnya dengan dua simbul, misalnya jadi gambar kucing dan simbul “berjalan”.

Nah, itu ada kemiripan dengan mantra sengara dan lajang-jojobojo. Yang menggunakan aksara carakan nglegena (telanjang). Sembah Gusti, menjadi “somoboho gosotoho” yang kalau dibaca konsonannya saja menjadi “smbh gsth”. Sama juga misalnya diwujudkan dalam karakter Jepang bisa menjadi samabaha-gasataha… dengan huruf lain bisa juga begitu.

Bedanya, simbolasi aksara-aksara non-hieroglif sudah lebih lanjut menjadi lambang ucapan, bukan lagi simbol materi ucapan. Ini menandakan lebih majunya abstraksi budaya-budaya itu dibandingkan budaya Mesir kuno.

Yang jelas ada benang merah tentang hakekat nglegena, substansi ketelanjangan. Juga termasuk menakjubkan adalah bahwa sebenarnya awal-awalnya konsep bahasa dewata itu berbasis faham “Monotheisme” paling tidak “Monolatry” (berpaham dewa banyak, tetapi ada Maha Dewa yang paling berkuasa – fahamnya masyarakat Babilonia jaman Ibrahim).

Nah, dengan begitu saya tinggal merenungi firman Tuhan dalam QS 49:13: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal… dst”. Dan dari tinjauan ekosistem serta geografi kuno, tempat yang paling memungkinkan untuk perkembang-biakan manusia itu adalah kondisi “tropika”, yang semula di Afrika, tetapi karena kekeringan menimpa benua itu, menyebabkan “bakalan” manusia bermigrasi ke mana-mana. Nusantara yang sejak 30 juta tahun yang lalu tetap melekat di Khatulistiwa dengan alam segar kaya flora-fauna menurut pendapat saya sangat cocok untuk menciptakan keragaman makhluk hidup. Kita sekarang pun sebagai bangsa Indonesia juga paling banyak bersuku-suku dibandingkan bangsa-bangsa lain…. hehehe…. ah, ini sekedar merenung.

Namun hasilnya, saya menjadi sadar bahwa budaya dan peradapan Nusantara, pastilah jauh lebih tua dibandingkan yang dipersangkakan para ahli. Permasalahannya adalah bahwa jejak-jejak budaya bangsa-bangsa itu di Nusantara sebagian besar terendam laut ketika jaman es terakhir berakhir (sekitar 11.600 tahun yang lalu, kalau menurut cerita Plato), yang kebetulan menjadi acuan dasar dari sistem kalender suku Maya…

Lho, kok kemana-mana? Ya, deh… pokoknya Bahasa Dewata itu berintikan ketelanjangan, dan itu ada disegenap suku bangsa di dunia. Dan itu untuk segala makhluk ciptaan Tuhan. Maka tak heran kalau ada pendapat bahasa dewata semacam itu dipahami pula oleh para yang ghaib…. Apa begitu, ya? [KDP, 28/5-2005]

Kutu Busuk Kyai Salam

SUATU ketika, menjelang peringatan Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi, saya menerima e-mail dari Mr. Alliq McGellnow yang sedang belajar di Amerika. Isi e-mail sangat lucu dan menggemaskan, tentang persepsi dan keimanan beliau terhadap peristiwa akbar yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad. Semua serba realistik. Sampai-sampai saya membalas e-mail itu dengan memberikan gelar kepadanya menjadi bernama Dr. HC. Alliq McGellnow, MMTmn (Magister of Megelna Temenan, Magister Menjeng-kelkan Betul!).

Mengapa? Karena saya jadi ingat atas keluarga legendaris mantan tetangga saya di kampung, Keluarga Mat Pithi dengan kedua anaknya Klowor dan Kliwir. Klowor anak Mat Pithi yang besar entah sejak kapan, ternyata menjadi simpatisan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Sehingga setiap tingkah laku beragamanya menjadi serba reaksioner dan fundamentalis. Sedang Kliwir lebih tertarik berguru agama kepada tokoh-tokoh sepuh di kampung. Klowor menjadi radikal, sedang Kliwir moderat dan cenderung liberal.

Dasar sifatnya yang lebih banyak mewarisi gaya cengengesan Mat Pithi, Kliwir sebagai adik sangat sering menggoda Klowor dalam bermain logika dan nalar spiritual. Kadang-kadang tingkah menggoda itu sangat keterlaluan, dan serba iseng. Apalagi ketika Klowor ketahuan aparat keamanan sebagai simpatisan NII. Masih untung keterlibatan Klowor belum parah dan akut. Klowor, bukan pelaku langsung. Klowor hanya tidak sadar bahwa ‘tanda tangannya’ sebagai Lurah NII dimanfaatkan anak buahnya untuk kegiatan ‘spanyol’ (sebagian pakai nyolong) dalam rangka mencari dana perjuangan. Klowor mau tidak mau menjadi goyah keyakinannya. Inilah yang menjadi sasaran empuk bagi Kliwir untuk menggoda.

Maka ketika akan memperingati Isra’ Mi’raj, Kliwir menggoda keimanan kakaknya tentang peristiwa besar itu. Sebagai penganut faham radikal-fundamentalis lagi literal, bagi Klowor beriman ya beriman. Sementara Kliwir mengimani peristiwa akbar itu dalam khasanah rasio dan nalar logika.

Dalam rangka mencari legitimasi alasan bernalarnya, Kliwir mengajak Klowor (yang mulai goyah keyakianan radikal-fundamentalisnya, akibat dicerca sana-sini gara-gara jadi Lurah NII) menghadap ke Ustadz Salam. Sebetulnya di kampung Kliwir dulu Ustadz Salam dipanggil Ki atau Kyai Salam, malah ada yang memanggil dengan Mbah Salam. Hanya gara-gara Klowor juga akhirnya Kyai Salam mendapat sebutan Ustadz….

Gara-garanya Klowor merasa jengkel dan minta bukti bahwa cerita Kliwir benar adanya. Kliwir menceritakan kisah perjalanan seekor Tuma (kutu kepala) yang katanya bisa mencapai jarak sangat spektakuler. Bayangkan seekor tuma yang nggremet di atas meja kena sorot lampu saja ‘teler‘ kok kata Kliwir mampu menempuh jarak dari Kampung Podorukun, menuju Gedung Grahadi di Surabaya kemudian mencapai Ruang Sidang MPR/DPR di Senayan, mampir ke Gedung Nusantara I, tempat berkantornya Ketua MPR dan DPR. Kontan saja Klowor mendelik dan menghardik: “Kliwir… jangan macem-macem kau! Mana mungkin Tuma itu menempuh jarak sejauh itu. Kecuali kekuasan Tuhan….” (bolak-balik, dalam pikiran Klowor masih saja Tuhan, Tuhan dan Tuhan. Mungkin karena saking menuruti anjuran dalam Kitab-nya yang Ingatlah akan Tuhan kapan saja dimana saja dan bagaimana saja.. Maksudnya dalam ‘jumeneng’, ‘lungguh, kelawan anendra, ing karamen lawan kasepen.. maaf.. basa jawanya kumat.. maksudnya ingatlah Tuhan dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring, dalam keadaan ramai maupun kesepian)

Kliwir celelak-celelek, malah mengajak mem-buktikannya di rumah Kyai eh… Ustadz Salam, tokoh PKB-BTSL (PKB-Betulan Tidak Salah Lagi) yang menjadi anggota MPR merangkap DPR merangkap Ulama kondang, dan teman dekat mantan ketua umum PBNU-ATTT (PBNU-Asli Tulen Tanpa Tiruan).

Di rumah Kyai eh.. Ustadz Salam, Kliwir langsung saja nuwun sewu sebentar saja, kemudian mencomot Kopyah Ustadz Salam. Kontan saja Ustadz Salam yang hapal dengan lagak dan lagu Kliwir maklum dan senyum-senyum sembari menebak-nebak maksud Kliwir. Sementara, Klowor lah yang marah bukan main menyaksikan tingkah Adiknya.

“Heee.. Kliwir, kurang ajar kamu! Mencompot Kethu Haji sembarangan. Itu melecehkan hakekat kehajian dan kekiyai-hajian Ustadz ‘al Mukarom’ Salam, tahu!”

“Halaaaah… wong yang punya kethu saja ridha kok Kang.. tuh malah klecam-klecem senyum-senyum. Kan tadi aku sudah mohon maaf dan nuwun sewu? Ini nih Kang buktinya. Cuman memang bukan Tuma, tapi Bangsat atau Kutu Busuk, Kang… Ah, makaciiih ya Bangsat… Ente ngendon di Kethunya Eyang Salam….”

“Bukti-bukti dengkulmu mlotrok itu. Mana buktinya kalau Bangsat itu sampai kemana-mana, wong cuma di kethu Ustadz Salam saja, ha?”

“Punten ndalem sewu Eyang Salam… Kemarin Panjenengan dari mana, Yang?”

“Lho, kok takon aku dari mana. Ya jelas pulang dari Jakarta Wir, wong diundang oleh kolega di sana. Sebelumnya aku mampir dulu di Balai Sidang Senayan, nyambangi tokoh di sana, terus sebelum ke Jakarta kemarinnya, mampir dulu Ke Grahadi Surabaya… Sambang kolega partai juga… Lha baru kemarin itu naik Argo Gemilang lan Padhang Mbulan… hehehee… lha wong tanpa kaca kok sepurnya, telat sampai stasiun Klaten itu…”

“Apa kopyah atau kethu ini yang dipakai Eyang Salam?”

“Wooo, jelas, lha itu kan ibaratnya perlengkap-anku, identitasku, kan Wir. Kenapa to?”

“Ini lho Yang, Kang Klowor ndak percaya bahwa ada tuma… sayang Kyai ndak tumoan, tetapi di kopyahnya malah ada bangsat… yang mampu menempuh perjalanan dari Gedung Grahadi sampai Ke Gedung MPR/DPR. Lha buktinya kan tuma eh.. bangsat ini ikut Kyai Salam kemana-mana, kan….?”

“Ooooo… itu tadi bangsat di kethuku tah? Pantas bikin gatal kepala melulu…”

“Lha iya to Yang, katanya mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi… kok yang faktual bisa terjadi atas jasa ‘manusia’ malah mustahil bagi Kang Klowor..?”

“Eemmm iya-iya. Yang atas jasa manusia saja bisa terjadi kemustahilan, apalagi atas kehendak Tuhan, ya Wir…Lho ngono lho Wor, Klowor… jangan suka mengungkung diri terlalu banyak. Sesekali dengan akal sehat lah. Malah jadi kurang sehat kan akibatnya., heheheh.”

“Matur nuwun Ustadz Salam…. ” (Klowor menjawab sekenanya, dengan tetap memelototi Kliwir… Merasa kalah pamor dari adiknya!) – (16/5-2002)

Jenggot Kyai Salam

YAH meskipun Kliwir sering mempecundangi Klowor dalam berdebat masalah agama dan keimanan, sebagai anak yang mulai menanjak dewasa dia pun sedang getol-getolnya sekolah ngaji (seperti kolega saya Mr. Alliq McGellnow). Maklum sebagai mahasiswa ‘anyaran‘, baru diterima dan mulai kuliah, Kliwir sering mendapat responsi agama di kampus oleh para kakak-kakak asisten agama (rohis). Di kampus Kliwir mendapat petuah dari kakak-kakak asisten, agar sebagai lelaki dewasa memelihara jenggot!

Dasar Kliwir yang masih polos, tetapi sering menggodai kakaknya, langsung bertanya, “Kak, apa bedanya Jenggot dengan Kumis kan sama-2 pertanda kelaki-lakian yang boleh dipertontonkan?” sambil cengar-cengir karena ditertawai teman-temannya.
“Ah, Dik Kliwir ini, ini Sunah Nabi lho Dik, jangan didebat dulu. Konon janggut atau jenggot itu kan tempat bergelantungannya para malaikat?”

Kliwir kaget bukan alang kepalang. Nalarnya langsung bekerja. Sayang hasilnya dia harus menahan ketawa dan minta ijin ke belakang, pengin pipis. “Masak iya sih, janggut eh.. jenggot (soalnya janggut dalam bahasanya Kliwir sama dengan DAGU) tempat bergelantungannya malaikat? Ah, kasihan Emak dong, kan ndak bakalan digelantungi malaikat? Apa malaikatnya malah ‘glandhotan‘ atau minta gendong sekalian? Terus kalau begitu enakan orang darah Indo-Aria atau Semitis yang tuebel-tuebel jenggotnya. Kasihan Kyai Haji Salam yang janggut eh.. jenggot-nya cumak beberapa utas” pikir Kliwir yang membuatnya menahan tertawa itu.

Kliwir penasaran dan berniat menemui Kyai Salam. Bertemu langsung bertanya. “Maaf Eyang Salam, cucu-murid mau bertanya, apakah benar janggut eh… jenggot itu tempat bergelantungannya malaikat?”
“Ah, Thole Kliwir, mesthi kowe dapat keterangan dari kakak-kakakmu yang sedang getol menyiarkan agama kan Le? Kalau menurut nalar, memang meng-gelikan seperti apa yang kamu rasakan sehingga kamu tadi pamit ke belakang, kebelet pipis…”

[Kliwir trataban, terkejut-kejut, mengapa Kyai Salam tahu apa yang telah dia alami? Apa ada yang lapor kepada Kyai Salam? Kalau ada, siapa ya diantara teman-temannya? Orang dari kampungnya hanya dia seorang yang jadi Mahasiswa... ?]
“Tapi kalau dirasa-rasakan ya memper dan benar kok Le. Mangkanya walaupun sedikit aku piara juga jenggot. Kumis malah kucukur klimis wong malah kayak Sengkuni…. hehehe. Benarnya, jenggot itu pertanda kelaki-lakian yang boleh dipertontonkan. Yang lainnya paling hanya suara. Tapi kan ada juga laki-laki yang suaranya ngemprek.. kaya Pak Joyoboyonya mendiang Ki Umar Kayam itu lho, Le. Jadi perlu ada tanda. Lha setelah punya tanda eh… tanda yang lain yang berhubungan dengan ‘kejantanan’ dan sifat ‘ruda-paksa’ jangan ditonjolkan…”
“Sebentar Kyai… kok tadi ndak disambung wejangannya malah berhenti pada setelah punya tanda….?”
“Sik tah.. ini terusannya, setelah punya tanda kelaki-lakian, maka si orang tadi ya harus bersikap laki-laki. Laki-laki yang dilindungi dan dishalawati para malaikat. Jujur, teguh, tegas, teges, melindungi lawan jenis, dan lain-lain perbuatan baik untuk sesamanya. Baik sesama laki-laki yang juga bermalaikat, atau membuat agar laki-laki lain menemukan malaikatnya masing-masing, dan yang paling penting, jangan mudah terusir malaikatnya itu, bila dekat-dekat dengan lawan jenis… Karena seharusnya lawan jenis itu lebih dapat memantapkan bersemayamnya malaikat. Tidak saja bergelantungan di jenggot.. tapi di sini (menunjuk ke arah dada). Dan jangan gampang kebakaran jenggot, kalau begitu berarti setan yang bergelantungan…. hehehee….”
Kliwir pusing berkunang-kunang… “Waduh Kyai Salam, besok lagi saja nggih… Mumet, pusing saya.
[repost dari pernik-pernik nalar spiritual wordpress]